Selasa, 07 Juli 2020

Langkah Mengajarkan Anak Matematika Sejak Dini

Sumber gambar: kidaha di pixabay.com

Orang tua dan pendidik sering kali mengeluhkan bahwa anak sulit sekali memahami matematika. Sementara, bagi anak sendiri pelajaran ini sangat sulit. Bahkan, ada yang kemudian sangat membenci alias anti terhadap matematika.  Padahal, pelajaran ini tidak dapat ditolak keberadaaannya. Hampir semua jurusan sekolah hingga perguruan tinggi ada materi berhitung dan sejenisnya.

Cara Mengajarkan Anak Matematika Sejak Dini

Seharusnya, matematika dan berhitung memang diperkenalkan sejak dini sebagai pelajaran yang menyenangkan. Orang tua dan guru tidak hanya berharap anak pintar matematika di usia sekolah dsar. Di rumah atau di sekolah anak usia dini atau di taman kanak-kanak, konsepnya dapat diajarkan dengan cara-cara berikut.

1. Menggunakan Dramatisasi

Dramatisasi dilakukan dengan gerakan. Sebagai contoh, anak diminta melompat tiga kali secara bersama-sama. Lompatan tersebut dapat diulang-ulang dengan hitungan yang berbeda-beda.

2. Menggunakan Anggota Tubuh

Gambar oleh Gerd Altman dari pixabay.com

Berhitung menggunakan anggota tubuh sudah diketahui sejak lama. Anak diajarkan mengetahui bahwa jumlah mata, telinga, dan tangan ada dua.

Di tingkat yang lebih tinggi anak sudah mulai dapat menghitung seluruh jari tangan mereka.

3. Menggunakan Mainan Anak

Ini merupakan cara yang paling disukai anak. Ajaklah mereka menyusun balok, menderetkan mobilan, dan meletakkan seluruh boneka yang dimiliki.

Berhitung menggunakan mainan anak dapat sekaligus mengajarkan anak konsep bentuk, lebih besar, lebih banya, hingga penumlahan dan pengurangan sederhana.

4. Menggunakan Buku Cerita

Mengapa Anda Harus Membaca Cerita Anak-anak - cintabuku.id

Sumber gambar: cintabuku.id

Anak Anda suka buku cerita? Ini juga merupakan cara yang bagus untuk mengajarkan mereka berhitung sekaligus membaca gambar. Hitunglah sesuatu yang ada di dalam gambar, seperti buah di atas pohon, buah yang jatuh, orang di dalam dan di luar rumah, dan lain-lain.

Langkah Matematika Awal untuk Anak

Setelah mengetahui cara mengajarkan anak matematika pada anak sejak dini, guru dan orang tua juga harus mengetahui konsep matematika awal. Ini diajarkan sebelum anak belajar operasi hitung, seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

Konsep tersebut, yaitu:

  • Berhitung ; anak dapat menyebutkan bilai satu, dua, tiga, dan seterusnya hingga dua puluh secara berurutan.
  • Membilang; anak dapat berhitung dengan menunjukkan bendanta. Biasanya di tahap ini anak sering kali melakukan kesalahan, seperti berhitung lebih cepat dari benda yang ditunjuk atau sebaliknya.
  • Mengenal beragam bentuk
  • Mengenal angka
  • Memahami pengelompokkan benda: sa besar, sana tempatnya, dan lain-lain.
  • Memahami konsep lebih besar, lebih, sedikit, dan sama banyak.
  • Mengenal simbol matematika

Setelah ketujuh konsep di atas dipahami, barulah anak belajar penjumlahan dan pengurangan secara utuh. Jangan lupa, konsep operasi bilangan tersebut harus dipahami benar jika Temans ingin anak menyelesaikan soal cerita.

Ingat pula bahwa matematika sama dengan pelajaran lain. Tidak dihafal! Matematika merupakan pelajaran yang menggabungkan pemahaman konsep dan kemampuan berhitung. Anak akan berhasil di sini jika menyukai dan banyak berlatih.

 


Senin, 15 Juni 2020

Ketika Anak Mogok Sekolah

Kisah 1

Tetangga depan rumah saya, mempunyai 3 orang puteri. Sementara saat itu, saya baru mempunyai sepasang anak yang masih batita.

Puteri kedua mereka antusias sekali karena akan bersekolah TK. Setiap bermain di depan rumah dia selalu bercerita tentang hal tersebut.

Antusiasme anak berlangsung hingga minggu pertama sekolah. Setelah itu, entah kenapa setiap mobil antar jemputnya datang dia akan menangis keras. Mama, begitu sebutan anak kepada ibunya, marah besar.

Hal tersebut berlangsung hingga sekitar satu semester.

Bayangan drama menangis di depan rumah dan amukan orang tua terus melekat diingatan. Itu pertama kali saya melihat anak meraung dan menangis, ditambah teriakan marah ibunya. Rasa iba sering kali memnghinggapi tetapi tidak mungkin untuk membantu. Lebih dari sepuluh tahun lalu datang membantu dan menghibur anak tetangga yang sedang mengamuk dan dimarahi ibunya, sama dengan menyampuri urusan orang lain.

Kisah 2

Saya sudah mengajar Taman Kanak-Kanak selama lebih dari 5 tahun. Siswa yang mengamuk tidak mau masuk kelas dan ditinggal ibunya, alhamdulillah dapat diatasi dengan baik.

Bagaimana kalau itu yang tidak mau masuk kelas adalah anak saya?

Anak kelima saya, namanya Hilman, menangis keras ketika masuk TK. Dia memang sengaja tidak disekolahkan di tempat saya mengajar dengan alasan agar lebih mandiri.

Hari pertama dia lalui dengan baik. Namun, keesokan harinya dia tidak mau sekolah lagi. Di rumah dia tidak mengamuk. Hanya saja, bangun tidur tiba-tiba merasa sakit perut dan pusing. Setelah itu, dia bilang ingin dititipkan di rumah nenek saja.

Saya langsung menyadari bahwa ini berhubungan dengan aksi menangisnya di hari kemarin. Akhirnya, selama dua hari berturut-turut saya antar ke sekolah dan menunggunya di gerbang seperti teman-temannya. Setelah itu, dia mau masuk sekolah tetapi dengan muka memelas.

Ketidaksukaannya pergi sekolah baru menghilang setelah satu bulan. Itu terjadi ketika sekolah akan menyelenggarakan banyak lomba menyambut hari kemerdekaan RI. Diumumkan bahwa setiap anak boleh ikut lomba asal sudah tidak menangis ketika sekolah dan tidak ditunggu ibunya.

Wah, Hilman yang memang mempunyai daya saing tinggi langsung berubah total. Dia bahkan memenangkan lomba busana daerah untuk tingkat kelompok A.

Ternyata, cerita tentang menangis ketika masuk sekolah baru tidak berhenti sampai di situ. Kejadian berulang ketika masuk SD.

Saya saat itu baru beberapa hari melahirkan adiknya. Jadi, dua hari pertama sekolah Hilman datang diantar abinya dan setelah itu ada ojek yang mengantar dan menjemput. Semua berjalan lancar sampai libur Ramadhan, dua minggu setelah awal tahun ajaran baru.

Masalah timbul ketika liburan usai. Kali ini Hilman bahkan mengamuk di sekolah sambil berpegangan pintu gerbang karena tidak mau masuk kelas. Wali kelas sampai menanyakan usianya karena dianggap masih di bawah kriteria, padahal tidak demikian.

Saat itu, saya memutuskan untuk ikut mengantar dan menjemput bersama ojek. Tentu saja bayi diajak.

Bagaimana tangisannya bisa hilang? Itu terjadi setelah ada pengumuman ekstrakurikuler akan dimulai. Saya pun mengatakan bahwa untuk bisa ikut kegiatan tersebut, syaratnya sekolah sudah tidak menangis dan mau ditinggal sendiri. Dia setuju. Kegiatan sekolahnya aman sampai kelas 6.

Sesaat sebelum kelulusan, Hilman berkata bahwa dia mantap ingin melanjutkan ke pesantren. Saya bahagia sekali, dia mau tanpa dipaksa. Untuk mengantisipasi kesedihan ditinggal di asrama nantinya, persiapan sudah dilakukan jauh hari untuk memantapkan niatnya.

Alhamdulillah, meski harus pulang sebelum waktunya karena adanya Pandemi Corona, Hilman melewati masa adaptasi dengan lingkungan baru dengan baik.

*****

Kisah anak yang tiba-tiba mogok sekolah di awal masuk mungkin dialami beberapa Temans di sini. Sedih, bingung, dan marah berbaur menjadi satu saat peristiwa terjadi.

Bagaimana tidak? “Kok, anak saya nggak mau sekolah? Padahal itu penting untuk masa depannya.”

Di sisi lain, “Memalukan sekali rasanya, anak saya menangis meraung ketika diajak ke kelas. Anak lain gembira.”

“Anak saya menangis sambil memukuli gurunya. Aduh, jadi nggak enak!”

Temans, tidak perlu khawatir! Ada kok cara mengatasinya. Mudah, hanya perlu ketegasan dari guru di sekolah dan Temans sebagai orang tua.

Berdasarkan pengalaman dan rangkuman dari berbagai buku, ini cara mengatasi anak yang mengamuk saat awal masuk sekolah

  • Mengenali Penyebabnya

Anak mungkin saja mogok sekolah karena merasa tidak punya teman, takut dengan guru atau temannya, tidak dijemput tepat waktu, dan sebagainya.

Agar dapat mengenali penyebabnya, Temans dapat merunut waktu sekolah dan apa saja yang terjadi. Jika memungkinkan, mintalah anak untuk bercerita.

Dengan mengenali sebabnya, mogok sekolah dapat diatasi lebih cepat dan tuntas.

Seandainya anak mogok karena takut teman, katakan bahwa guru di sekolah akan membantu.

Namun, jika anak bermasalah karena Temans terlambat menjemput, itu artinya anak khawatir ditinggal. Yakinkan dirinya bahwa Temans tidak akan pernah meninggalkannya sendiri di sekolah.

Bagaimana dengan guru?

Umumnya guru anak pra sekolah atau usia kelas 1 SD sangat sabar. Jangan takuti anak dengan kata-kata, seperti “jika kamu terlambat ibu guru marah” atau “kamu harus baik di sekolah kalau tidak ibu guru akan menyetrap”, dan sebagainya.

  • Mengajak Guru untuk Bekerja Sama

Setelah mengetahui sebabnya, ajaklah guru di sekolah untuk bekerja sama.

Temans dapat meninggalkan anak di sekolah dengan meyakinkan diri bahwa mereka diasuh oleh guru yang baik. Ketakutan kepada teman dan masalah lain dapat diatasi bersama. In sya Allah, seiring dengan waktu mogoknya akah hilang.

  • Memberi Dukungan pada Anak

Jangan lupa, beri dukungan pada anak!

Beri mereka pelukan ketika akan ditinggalkan di sekolah! Jangan marah saat mereka berkata tidak mau bersekolah lagi!

Dukungan dari orang tua penting agar mereka merasa dihargai sampai akhirnya masalah dapat diatasi.

  • Meningkatkan Kecerdasan Emosional

Kemungkinan paling besar ketika anak mogok sekolah adalah sedikit lebih lambat dalam beradaptasi. Dia tidak biasa dan takut dengan orang-orang baru di sekitar.

Ini dapat diatasi jika kecerdasan emosionalnya terasah. Untuk ulasan ini dapat Temans lihat di tulisan tentang “Mama, Aku Ingin Pindah Sekolah”.

Anak yang cerdas secara emosi, meski usianya muda, dia akan bisa mengatasi semua masalahnya sendiri. Tentu saja dengan dukungan orang tua dan lingkungan.

Itulah 5 cara mengatasi anak yang mogok sekolah di awal masuk!

Sebagai langkah awal, Temans dapat sering mengajaknya bersosialisasi sejak dini. Sosialisasi dapat membuat anak lebih mudah beradaptasi di masa prasekolah. Mereka sudah paham, bahwa tidak semua temannya baik. Di antara mereka ada yang jahil atau suka memukul tetapi Temans selalu ada untuk mendukung mereka.

Sosialisasi juga bagian dari meningkatkan kecerdasan emosional.

 


Minggu, 14 Juni 2020

Ketika Anak Bermasalah dengan Guru

“Orang beradab sudah pasti berilmu tetapi orang yang mempunyai ilmu belum tentu beradab.”

 

Sumber gambar: pixabay.com

Perkenalkan, saya seorang ibu rumah tangga yang mempunyai 6 orang anak. Temans atau siapapun yang kenal dekat dengan keluarga, kebanyakan bilang bahwa semua anak saya penurut. Jadi, buat mereka yang melihatnya sangat mudah mendidik dan mengasuh anak-anak-anak tersebut.

Itu kata orang. Bagaimana dengan saya yang menjalaninya? Tentunya tidak semudah perkataan orang atau saya menulis saat ini. Anak-anak ada masa sulitnya. Termasuk ketika mereka berhadapan dengan guru.

Anak kedua saya, Mukhtara Rama Affanndi, kini sudah berusia 22 tahun. Rama nama panggilannya. Sejak usia sekolah dasar sudah terlihat sedikit keras kepala.

Lebih dari 10 tahun lalu, seorang murid bimbingan les berkata, “ Ummi, tahu nggak? Rama tadi dipukul oleh Pak Didi (nama disamarkan).”

“Oh, kenapa?”

“Katanya, murid kelas 5 sedang berantem dengan Pak Didi, Mi. Setiap Rama lewat pasti dipukul.”

Saya hanya mendengarkan saja. Rama jarang bercerita tentang kesulitan yang dianggapnya masih bisa ditangani di sekolah. Masa itu, belum ada grup WA orang tua, he – he..

Malamnya saya bertanya pada Rama tentang peristiwa tersebut.

“Iya, Mi. Tapi nggak sakit kok karena Rama menghindar.”

“Bukan soal sakitnya. Kenapa?

“Awalnya tentang pelajaran. Apa yang Pak Didi ajarkan berbeda dengan yang tertulis di buku paket Rama. Pak Didi ngotot kalau itu benar. Terus, Rama cocokin dengan buku paket IPA lain milik teman, ternyata Pak Didi tetap salah. Terus, sejak itu Pak Didi nyuruh Rama keluar ketika pelajarannya.”

Saya menarik napas dalam. Masa itu memang tahun dimana sekolah tidak boleh menjual buku paket atau menunjuk buku terbitan tertentu.   Jadi, dalam satu kelas buku yang dipegang berbeda-beda. Harus diakui, mestinya semua buku intinya sama, apalagi pelajaran IPA yang ilmu pasti.

“Sudah 2 minggu Rama nggak ikut pelajaran IPA. Masalahnya, di awal hanya 3 orang yang diminta keluar kelas. Minggu ini hampir semua murid ikut keluar.”

“Ya sudah. Besok Ummi ke sekolah. Kamu harus ingat, Pak Didi seorang guru. Beliau bisa saja salah dalam mengajar tetapi murid tidak boleh berlaku tidak baik.”

“Iya, Ummi.”

Keesokan harinya, kedatangan saya ke sekolah sudah ditunggu wali kelas. Namun, Pak Didi hanya memandang saja dari jauh.

Dalam pertemuan, saya sepakat untuk mengingatkan Rama untuk meminta maaf. Mengenai perdebatan tentang sesuatu yang salah dalam pelajaran biarlah menjadi urusan kepala sekolah dan wali kelas.

Tidak menunggu lama. Rama melaporkan sepulang sekolah kalau dia sudah menghadap kepala sekolah.

“Sedih Mi, dinasehati Pak Irwan. Tapi, Pak Didi tetap tidak mau mengakui kesalahannya dan minta maaf.”

“Ya sudah. Yang penting kamu yang minta maaf. Soal pelajaran, itu nanti diperbaiki kepala sekolah dan wali kelas.”

“Pak Didi, beliau guru kamu. Lain kali tegurlah dengan cara baik jika ada kesalahan. Misalnya, dengan datang ke kantor.”

“Iya, Mi.”

Pak Didi masih mengajar di sekolah sampai satu bulan kemudian. Saya dengar dia diminta mengundurkan diri karena masalah dengan siswa-siswa kelasnya.

Beberapa bulan yang lalu, ketika Rama mengisi stand up comedy dalam satu acara dia bertemu dengan Pak Didi. Mereka sempat berbicara banyak tentang banyak hal.

“Rama cium tangannya, Ummi. Terus, bilang maaf lahir dan batin.”

Alhamdulillah…

*****

Ketika buah hati Temans bersekolah, mungkin kisah mirip di atas pernah terjadi. Kisah kenakalan anak-anak atau murni kesalahan guru. Saya mengangkat hal di atas dari dua sisi, sebagai orang tua dan sebagai guru.

Mengapa?

Saya tahu benar, siswa zaman sekarang tidak sama dengan dahulu. Mereka jauh lebih terbuka dan blak-blakan dalam berbicara. Suka dan tidak suka diucapkan tanpa memperhatikan lawan bicara.

Beberapa siswa privat saya bahkan menganggap guru yang datang layaknya pembantu dalam pelajaran sekolah. Guru yang datang ke rumah dan digaji oleh orang tua. He he.. Itu sebabnya beberapa tahun belakangan saya tidak lagi menerima permintaan privat belajar dari murid-murid.

Bukan tidak mau mendidik tetapi lebih menjaga hati. Saya lebih suka mengajar siswa bimbingan belajar dalam jumlah 3 sampai 7 orang dalam satu kelompok. Dalam kelompok, siswa lebih mudah diarahkan. Saya juga lebih mudah memasukkan nilai-nilai moral ketika mengajar.

Kembali kepada kisah di atas, saya ingin menegaskan bahwa dalam belajar atau mencari ilmu, adab dan akhlak harus diutamakan.

Di sini peran orang tua bermain. Di sekolah kebanyakan tidak mengajarkan adab dan akhlak secara sempurna. Orang tua yang harus mengingatkan. Sekolah zaman now, lebih mengutamakan ilmu, hafalan, dan materi.

Contoh kecil, orang tua menunjukkan rasa menghormati guru les yang datang ke rumah sebagai tamu. Anak akan melakukan hal yang sama pula.

Jangan menggerutu tentang guru di depan anak. Anak akan ikut tidak menghargainya.

Orang tua tidak lagi menyalahkan guru dalam setiap masalah. Jika guru memang salah, tentu ada cara baik pula untuk menyelesaikannya.

Berdasarkan pengalaman, siswa yang pintar tetapi mempunyai akhlak baik belum tentu memperoleh prestasi bagus. Namun, siswa yang santun dan berakhlak baik sering kali mendapat hasil yang tidak terduga.

Tentang adab dan ilmu dalam Islam ini sudah serinh dibahas dalam berbagai buku parenting.

Para Imam dan ulama zaman dahulu dikisahkan mempelajari adab lebih banyak dan lama dibandingkan ilmunya.

Adab ini merupakan akhlak dalam kehidupan sehati-hari, sebagaimana sabda Rasulullah yang terkenal, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

Dikisahkan, Iman Syafi’i yang akan menimba ilmu kepada Imam Malik. Sebelum datang ke Imam Malik, sang ibu memintanya untuk belajar adab Syaikh Rabi’ah.

Di kisah lain, Abdurrahman bin Al Qasim belajar kepada Imam Malik selama 20 tahun. Selama itu, beliau hanya 2 tahun terakhir beliau belajar ilmu. Selebihnya adalah pelajaran adab.

Apa saja yang termasuk contoh adab kepada guru dalam Islam? Beberapa di antaranya adalah datang ke majelis ilmu sebelum guru datang, berpakaian baik dan sopan, dan mengulang semua pelajaran yang telah diberikan.”

Adab perlu didahulukan daripada ilmu. Pertama, karena adab adalah sunnah Nabi Muhammad SAW. Sesuai dengan hadis yang sudah disebutkan di atas bahwa beliau diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak.

Kedua, adab membuat anak menjadi orang baik tanpa disadari. Anak jujur, mandiri, bertanggung jawab karena mempelajarinya. Ini akan menjadi bekal di kehidupannya di masa yang akan datang. Kehidupan sosial akan lebih mudah dijalani.

Ketiga, dengan adab seseorang akan berilmu. Bayangkan saja jika seseorang menerapkan aadab terhadap guru saja, tanpa disuruh dia akan rajin belajar. Tentu saja hasilnya adalah prestasi yang bagus. Apalagi jika anak melaksanakan adab-adab lain yang dipelajarinya.

So, Temans itulah sedikit kisah pribadi tentang salah seorang anak saya. Yuk, kita bersama membangun adab dari rumah agar Indonesia terhindar dari degradasi moral dan menjadi negara maju bermartabat!

 

 

 

 


Sabtu, 13 Juni 2020

Aku Ingin Pindah Sekolah!

Kisah 1

Seorang anak remaja pulang sekolah sambil cemberut.

“Kenapa, sayang?” Mama yang sedang duduk melihat gadgetnya bertanya.

“Pindah sekolah ya Ma?”

“Lho, kan baru sebulan?”

“Di sana aku nggak ada temannya. Mama sih, padahal aku mau sekolah di SMAN 10 kemarin. Banyak temanku di sana.”

“Yah, ini demi kebaikan kamu. Sekolah sekarang lebih mudah akses transportasinya. Kamu juga yang bilang nggak mau sekolah jauh.”

“Di sana nggak enak ternyata Mah. Gurunya juga nggak menyenangkan.”

“Oke, begini saja. Kamu tunggu saja sampai sebulan lagi.”

Alhamdulillah, bahkan sampai satu tahun berlalu sang anak tidak pernah lagi meminta pindah sekolah. Mama juga dengan sengaja tidak pernah mengungkitnya lagi.

Kisah 2

“Ummi, aku mau kuliah di sini. Tempatnya daerah Serpong. Lulusannya bisa ke Jerman.”

Ummi menarik napas. Anak pertamanya ini memang ingin sekali berkuliah ke Jerman atau Jepang. Namun, suaminya tidak setuju. Alasannya, ananda belum siap hidup mandiri. Sholat saja belum bisa memulai tanpa disuruh.

Pernah seorang gurunya menyarankan ananda untuk shalat 5 waktu tanpa disuruh sebelum lulus SMA. Buktikan pada ayahnya jika dia dapat hidup mandiri tetapi tidak dilaksanakan.

Akhirnya kedua orang tua menyetujui kuliah pilihan sang anak di sebuah kampus elite daerah pinggiran Jakarta.

Di sana, dia hanya bertahan satu semester. Setelah itu, ananda terlihat jarang kuliah.

“Nak, mengapa ummi lihat kamu jarang berangkat kuliah? Nggak mungkin bukan libur semesternya lebih dari 3 bulan?”

Ananda yang lebih banyak di kamar keluar mendengar ummi menegur.

“Iya, Ummi. Aku berhenti kuliah di sana saja ya? Nggak apa deh ulang lagi semester 1 di tahun ajaran baru.”

“Mengapa?”

“Di sana ada yang suka bully, Mi. Ada anak perempuan dan gengnya yang suka seenaknya pada orang lain.”

“Kamu bisa melawan bukan? Minimal  cuek aja. Nggak usah diladeni. Kamu laki-laki.”

“Tapi jadi nggak nyaman Ummi. Lagian masa berantem sama perempuan.”

“Ya sudah. Coba bicara saja dengan ayah.”

Akhirnya Ananda pindah kuliah dan mengulang kembali ke semester 1.

Ananda baru kuliah tetap saat kepindahan kedua. Kepindahannya kedua dilakukan dengan alasan, dosen yang mengajar sepertinya tidak kompeten. Dosen bahasa Inggrisnya saja, bahasanya pas-pasan.

Kepindahan ketiga, Alhamdulillah Ananda berkuliah di Yogyakarta. Di sana dia bersama sang adik yang menyusul kuliah di semester 1 meski tidak satu kampus.

*****

Di atas saya hanya menuliskan dua kisah tentang permintaan anak pindah sekolah dan pindah kuliah.  Kedua-duanya berhasil dilalui dengan baik.

Di kisah lain ada anak yang pada akhirnya berhenti kuliah karena tidak dapat beradaptasi dan orang tua tidak dapat membiayai kepindahannya. Padahal selama sekolah, ananda cukup pandai dan selalu rangking kelas ketika sekolah dasar.

Alasan Orang Tua Tidak Mengijinkan  Anak Pindah Sekolah

Ketika anak meminta pindah sekolah (termasuk kuliah), sebagian besar karena ketidaknyamanan. Baik karena tidak mempunyai teman, guru atau dosen galak atau tidak sesuai harapan, dan tempat yang tidak bagus. Cara dikisah pertama cukup bagus. Orang tua berjanji akan mempertimbangkan kembali pindah sekolah setelah 1 bulan.

Pada dasarnya, semua intinya adalah adaptasi. Anak-anak rata meminta pindah ketika sekolah atau kuliah baru berjalan kurang dari 6 bulan. Jarang sekali yang meminta berhenti dan pindah setelah 1 tahun. Bahkan, ketika orang tua harus pindah tugas ke luar kota anak yang enggan. Mereka sudah merasa sudah cocok dengan lingkungan barunya.

Oleh karena itu, beberapa pakar pendidikan anak menyarankan agar orang tua tidak segera mengiyakan atau mengijinkan ketika anak ingin pindah sekolah. Beberapa alasan yang banyak dikemukakan adalah sebagai berikut.

1. Anak Harus Belajar Menyelesaikan Masalahnya Sendiri

Temans, masalah seperti yang dikemukakan di atas biasanya baru terjadi ketika anak menginjak usia sekolah menengah.

Ini terjadi karena di masa itu, rata-rata anak baru dilepaskan mandiri oleh orang tua. Sebelumnya, mereka diantar jemput, ada grup WA orang tua yang intens, dan lain-lain. Orang tua menyelesaikan semua masalah anaknya, baik dengan teman atau guru.

Contoh kecil, ketika anak tertinggal tugas sekolah orang tua langsung mengantarkan tugasnya ke sekolah. Hal yang tidak berlaku ketika usia remaja. Orang tua sudah tidak lagi tahu yang terjadi di sekolah. Siswa lebih banyak. Ikatan antar orang tua berkurang.

Saat ketinggalan tugas di rumah, anak harus menanggung akibatnya, ditegur oleh guru.

Biarkanlah seperti itu! Anak harus belajar menyelesaikan masalahnya sendiri dan mencari solusi agar tidak terulang lagi. Tugas Temans hanya mengingatkan, mendengarkan anak bercerita, dan memberi nasihat berupa solusi, bukan dalam tindakan.

2. Anak Harus Belajar Menghargai Setiap Keputusan

Zaman sekarang sudah jarang sekali orang tua yang memutuskan sekolah anak sendiri. Umumnya anak ikut terlibat. Sebagian lagi anak memilih sendiri.  Minimal anak tahu pilihan orang tuanya.

Jadi, sekolah adalah keputusan bersama. Dengan demikian, anak tidak dapat melanggar begitu saja keputusan tersebut.

Anak belajar bahwa setiap keputusan ada resiko yang harus diterima. Tidak ada keputusan yang sepenuhnya menyenangkan.

3. Anak Harus Belajar Berpikir Sebelum Bertindak

Orang tua tidak harus langsung mengiyakan ketika anak  ingin pindah sekolah.

Ajarkan mereka berpikir sebelum bertindak! Berilah mereka konsekuensi kepindahan!

Misalnya, uang saku dipotong karena pindah berarti biaya tambahan, harus kembali ke kelas awal jika pindah dari pesantren, dan di sekolah baru belum tentu akan mendapatkan suasana yang diinginkan.

4. Anak Belajar Menerima Kondisi Lingkungannya

Suasana sekolah; siswa, guru, dan tempat baru pasti akan berbeda dengan sebelumnya. Apalagi jika sebelumnya anak belajar di sekolah swasta favorit dan pindah ke sekolah lanjutan negeri, apapun alasannya.

Sekolah lanjutan umumnya mempunyai siswa lebih banyak. Mereka dari berbagai golongan. Sekolah negeri juga belum tentu mempunyai fasilitas sebagus sekolah swasta.

Ajarkan anak untuk menerima kondisi lingkungannya dan berempati. Ini bagus untuk melatih rasa sosial.

5. Anak Dididik Bertanggung Jawab

Terakhir, anak dididik untuk bertanggung jawab dengan pilihan dan semua yang dilakukannya.

Bertanggung jawab jika sekolah dia yang memilih. Bertanggung jawab karena bukan salah guru jika ditegur karena tidak membwa tugas, dan seterusnya.

Lalu kapan orang tua mengijinkankan anak pindah sekolah? Apa pertimbangannya?

Jika suatu saat anak Temans bercerita bahwa dirinya dibully dan tidak dapat ditolerir lagi, bisa menjadi alasan utama.

Dalam kasus ini mungkin saja pihak sekolah menyelesaikan masalah yang ada. Namun, bagi beberapa anak persaaan tidak nyaman dapat timbul. Mungkin saja dia tetap bersikeras pindah sekolah.

Namun, harus diingat bahwa untuk masalah ini orang tua dan lingkungan sekitar harus berusaha meningkatkan kepercayaan diri anak agar kejadian bully tidak terulang kembali.

Akhir kata, sekolah merupakan  miniatur kehidupan nyata. Bukan sekadar untuk memperoleh ijazah atau prestasi tertentu. Di sini menjadi tempat pertama anak bersosialisasi dengan lingkungan lebih besar. Jika anak berhasil melewatinya dengan baik. insyaAllah di kehidupan selanjutnya anak dapat lebih mampu menghadapi ujiannya.

  


Rabu, 10 Juni 2020

Aku Tidak Bisa, Bunda!

Kisah 1

Sepuluh tahun lalu, saat saya masih mengajar di taman kanak-kanak.

“Yuk, belajar! Ditunggu sama Bunda Nani!” Salah satu orang tua murid dan anaknya terdengar memasuki halaman rumah.

“Nggak mau! Bunda Nani suka dibisa-bisain.”

“Memang galak?”

“Nggak sih! Tapi kalau aku nggak bisa, ya nggak bisa! Nggak mungkin jadi pintar!”

Saya segera keluar.

“Sini Erisa! “ Saya memanggilnya.

“Siapa bilang kamu nggak pintar?”

“Kemarin belum bisa membaca. Sekarang sudah bisa bukan?”

Dia diam saja.

“Menyusun balok, sekarang juga sudah bisa bukan?

Akhirnya Erisa mengangguk.

“Terus , kali ini kita mau berhitung sampai 20. Pasti juga bisa,” kata saya bersemangat.

“Iya, Erisa nanti akan bisa,” jawabnya pelan.

Kisah 2

Nadin (bukan nama sebenarnya) bukan anak bodoh. Hanya saja sebelumnya tidak pernah ada yang membimbingnya di rumah. Jadi, hingga sudah memasuki kelas 5 SD, nilainya tertinggal. Di kelas bimbingan belajar dia tidak bersuara dan mengerjakan soal jika tidak ditanya. Duduk juga selalu memilih paling belakang.

Setelah diselidiki, Nadin menyadari ketertinggalannya. Dia minder di hadapan teman-temannya. Daripada salah menjawab pertanyaan guru di kelas dan ditertawakan teman-teman, lebih baik diam saja.

Cukup lama saya membangkitkan semangatnya. Hampir satu semester.

Awalnya dia tidak mau membaca sama sekali pelajaran apapun karena menurutnya percuma. Berhitung? Wah, mendengar pelajaran matematika saja dia sudah alergi.

Kini, di usianya  yang semakin besar Nadin lebih percaya diri. Tidak pernah ada lagi kata tidak bisa dalam kamusnya sebelum mencoba dan berusaha terlebih dahulu.

*****

Temans pernah mendapatkan anak yang demikian? Apa saja dijawab tidak bisa. Di depan umum, dia tidak pernah mau bersuara. Jika dia ditanya akan menjawab dengan ragu. Beberapa di antaranya merasa bahwa dirinya tidak dapat melakukan apapun.

Dengan tuntutan prestasi baik, anak bukan semakin yakin dengan kemampuan dirinya. Akhirnya dia akan mencari jalan lain untuk memperoleh prestasi, misalnya dengan menyontek. He he.. Kembali pada pembahasan ini lagi ya?

Orang tua tentu saja ingin anak lebih percaya diri bukan?

Saat ini banyak sekali training yang memotivasi anak untuk lebih percaya diri, mampu menjawab tantangan, dan tujuan akhirnya  sukses di masa depan.

Apakah training-training yang diselenggarakan tersebut berhasil? Saya belum pernah meneliti dan tahu berapa persen keberhasilan atau kegagalannya.

Namun, menurut saya kepercayaan diri tidak diperoleh dengan cara yang instan. Sama dengan pola pengasuhan lain, semua berproses sejak anak masih dini. Sejak anak balita, bahkan sejak masih bayi. Training karakter dan lainnya  hanya stimulus sesuatu yang pada dasarnya sudah ada dalam diri. Jika anak dibesarkan dengan masalah maka training akan sulit menemukan hasil.

Pernah mendengar atau membaca tentang anak belajar dari kehidupan?  Beberapa kutipannya seperti pada gambar.

Sumber: dwilaelasari.wordpress.com

Yang mana Temans pilih? Semua yang baik bukan? Dalam pembahasan ini, Temans pasti ingin anak yang penuh percaya diri.

Percaya Diri dan Islam

Islam menempatkan kepercayaan diri sebagai bagian penting.

Dengan kepercayaan diri, muslim yakin dengan agamanya. Lebih jauh lagi, percaya bahwa Allah ada di setiap langkahnya.    Mengimani bahwa semua yang terjadi adalah takdir. Jika takdir menurut manusia buruk, itu terbaik menurut Allah. Allah tahu segala yang dibutuhkan manusia.

Ayat tentang percaya diri dalam Islam juga banyak.

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al Imran: 139)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fusshilat: 30)

Jadi, ada 4 hal yang dapat dilakukan menurut Islam agar kepercayaan diri meningkat, yaitu:

1. Mengenal Allah, artinya mengenal Islam dan mengimaninya. Dengan mengenal pencipta, seseorang akan selalu berprasangkan baik kepada Allah.

2. Mengenal diri sendiri, artinya mengenal arti dan tujuan hidupnya di dunia. Siapa saja yang sudah mengenal Allah dan dirinya sendiri akan terus berusaha bermanfaat bagi sekeliling. Tidak pernah ragu dalam bertindak karena Allah merupakan sebaik-baik penolong.

3. Berada di lingkungan yang positif; orang tua positif dan teman yang demikian juga. Bahkan, guru saya pernah menganjurkan bahwa ketika mendoakan anak-anak menjadi anak shaleh, jangan lupa mendoakan teman-temannya pula. Teman yang shaleh akan membawa anak menjadi lebih shaleh lagi.

4. Berdoa pada setiap kesempatan. Manusia yang sudah mengenal Allah dan dirinya sendiri, yakin bahwa setiap doa akan dikabulkan sesuai janji Allah. Ini akan membangkitkan kepercayaan diri.

Cara Mendidik Anak Lebih Percaya Diri

Dirangkum dari berbagai sumber parenting, orang tua dapat melakukan berbagai cara berikut agar anak lebih percaya diri.

1. Menanamkan Islam Sejak Dini

Penanaman Islam ini penting agar anak dapat melaksanakan dan menemukan 4 hal yang telah diuraikan sebelumnya.

Penanaman Islam pada anak dilakukan dengan teladan dan pengajaran.

2. Menghargai Setiap Usaha dan Prestasi Anak

Di sekolah taman kanak-kanak anak saya yang keempat, ada slogan, “Setiap Anak adalah Bintang”. Kata tersebut selalu menginsipirasi.

Saya tidak boleh memaksa anak-anak untuk memperoleh sesuatu dan harus menghargai setiap usaha. Mengapa?

Anak saya ada enam orang, harus yakin bahwa mereka akan menjadi bintang di bidangnya masing-masing.

3. Membiarkan Anak Menyelesaikan Masalah Sendiri

Sering kali orang tua ingin anak segera menyelesaikan pekerjaannya atau merasa kasihan. Akhirnya, semua dilayani. Ingin mengikat tali sepatu dibantu, makan disuapi, dan setiap malam dimasukkan buku-buku sekolahnya.

Sikap ini ternyata akan berdampak buruk lho! Mereka tidak tahu harus bersikap bagaimana saat orang tua tidak ada. Pada acara-acara tertentu, anak akan merasa rendah diri.

Namun, harus diingat bahwa tidak membantu bukan berarti pula membiarkannya. Temans harus tetap ada di samping untuk memotivasi dan memberikan arahan di saat-saat terburuk.

4. Memotivasi Anak untuk Memperoleh Tantangan Baru

Tahapan selanjutnya, ketika anak sudah terbiasa berusaha menyelesaikan masalah sendiri, motivasilah untuk memperoleh tantangan baru!

Ajaklah untuk mencoba permainan baru, menyelesaikan soal matematika yang lebih sulit, dan ke tempat-tempat baru yang menantang. Cara ini selain meningkatkan percaya diri, juga meningkatkan skill.

5. Memuji dan Menegur

Tentu saja di antara semua aktivitas, Temans tidak boleh lupa memberikan pujian dan teguran. Pujian dan teguran sesuai tempatnya.

Pujian diberikan ketika anak berhasil melampaui sesuatu meski bukan nomor satu. Ini membuat anak merasa dihargai. Besarkanlah hatinya.

Ketika berbuat kesalahan, tegurlah dia! Jangan menerangkan kesalahan di depan teman-teman atau saudara-saudara lainnya. Itu akan menjatuhkan harga diri. Tegurlah di saat yang tepat dan kata-kata bijak.

Itulah Temans, contoh usaha yang dapat dilakukan agar anak lebih percaya diri!

Tidak ada teori yang pasti menjadi orang tua. Yang tetap harus diingat adalah setiap anak adalah unik. Meski bersaudara kembar, pasti ada sisi yang berbeda.

Salam bahagia!

 

 


Sabtu, 06 Juni 2020

Dosa Tetapi Sudah Biasa

“Keburukan yang telah menjadi bagian dari suatu masyarakat tetaplah dipandang suatu keburukan. Allah tetap mencatatnya.”


Kisah 1

Bulan Ramadhan beberapa tahun lalu.

“Ummi, nyontek nggak boleh ya di Bulan Ramadhan?”

Nyontek itu kecurangan. Memperoleh sesuatu dengan cara yang tidak halal. Tidak jujur namanya. Guru yang melihatnya juga tidak akan senang. Meski bukan bulan Ramadhan, nyontek nggak boleh.”

“Dosa ya Ummi?”

Iyalah! Berbohong itu berdosa.” Saya menjawab tegas, pada anak ketiga yang sudah bersekolah tingkat SMA ini.

“Tapi kalau nggak nyontek, nilainya jelek bagaimana?

“Apa pernah Ummi meminta kamu untuk selalu mendapatkan nilai bagus? Lagi pula hampir nggak ada pelajar yang sempurna di semua pelajaran.”

Nggak apa? Padahal temen-temen nilainya bagus karena menyontek.”

“Tentu saja nggak masalah. Ummi tidak pernah memasalahkan nilai sekolah bukan? Yang penting sudah berusaha.”

Setelah itu, Iqra anakku terdiam dan melanjutkan belajar.

Di antara kakak dan adiknya dia terlihat biasa saja secara akademis. Peringkatnya sejak SD tidak pernah masuk sepuluh besar. Namun, dia rajin belajar. Kedua kakaknya mengakui, meski tidak pernah sepuluh besar, adiknya ini mempunyai kemampuan lebih di bidang matematika dan IPA lebih baik.  Kini, dia sudah masuk semester 2 Pendidikan Matematika di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung.

Kisah 2

Saya awalnya heran.  Beberapa siswa bimbingan belajar, biasanya yang sudah duduk di bangku SMP dan SMA, tidak membawa alat tulis ketika belajar. Namun, tiba-tiba di saat lain tempat pensil mereka penuh alat tulis lengkap, bahkan dobel.

Saya kira mereka baru saja membeli alat tulis baru.

Ternyata perkiraan tersebut salah. Mereka mempunyai banyak alat tulis secara tiba-tiba bukan dari membeli tetapi mengambil tanpa ijin milik teman. Selang beberapa hari alat tulis tersebut hilang kembali karena diambil oleh orang lain lagi dengan tanpa ijin.

Siswa-siswa menyebutnya sebagai  nyipet.

Nyipet itu mencuri bukan?”

“Ah, Ummi! Hampir semua teman juga melakukannya. Punyaku saja sering hilang. Jadi, tidak mengapa kalau juga mengambil punya orang lain.”

Bagi mereka kegiatan tersebut sudah biasa. Jika orang lain melakukannya dan merugikan, artinya tidak salah jika kita melakukannya pula.

*****

Selain dari dua kisah di atas, banyak lagi cerita tentang perbuatan dosa yang sudah dianggap biasa.

Ketika tahun ajaran baru, orang tua ramai-ramai memasukkan anak ke sekolah favorit dengan cara yang salah. Masyarakat menyebutnya sebagai “jalan belakang”. Tindakan salah tetapi sudah menjadi rahasia umum.

Beberapa tahun yang lalu bahkan pernah ada seorang siswa yang bercerita tentang gurunya yang memberi sontekan saat ujian nasional. Siswa tersebut dianggap memfitnah dan harus pindah sekolah. Kenyataannya, sudah menjadi rahasia umum pula ada guru yang notabene pendidik sering berlaku curang agar anak didik memperoleh nilai bagus. Reputasi sekolah menjadi taruhan.

He he.. Bukan bermaksud mendiskreditkan guru lho! Tentu saja banyak pula guru yang masih menerapkan kejujuran pada profesi.

Yang  pasti Temans, hidup di jaman kini memang sudah semakin sulit. Banyak dosa, besar dan kecil yang sudah dianggap biasa. Orang tidak malu lagi melakukannya. Padahal malu adalah sebagian dari iman.

Perhatikan saja aturan wajah koruptor yang tertangkap dan diumumkan. Hal tersebut tidak membuat orang yang melihatnya jera dan takut. Masih banyak saja yang melakukan tindakan tersebut.

Dosa yang Sudah Terbiasa Dilakukan Membuat Jiwa Mati

Mohon maaf, seperti sudah pernah saya tuliskan di awal, saya bukanlah seorang ahli agama.

Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang kebetulan juga berprofesi sebagai pendidik. Dengan kedua pekerjaan tersebut, saya banyak belajar dari anak-anak dan lingkungan. Termasuk kaitannya dengan masalah dosa yang sudah dianggap biasa ini.

Mengapa? Saya selalu ingat perkataan Abah (panggilan untuk ayah), “Dosa meski kecil tetap ada timbangannya di akhirat.   Hutang, sekecil apapun akan ditagih di akhir jaman kelak.” Ngeri kalau membayangkan.

Hmm.. Kembali kepada kedua kisah di atas, saya termasuk orang yang meyakini bahwa kebiasaan sejak kecil akan terbawa hingga dewasa. Awalnya satu perbuatan dosa, lama-kelamaan semakin banyak. Meninggalkan sholat, berkhalwat, riba, menjadi umum dilakukan.

Semua dianggap biasa dan urusan pribadi masing-masing. Terkadang orang yang tidak melakukannya justru dianggap aneh.

Pertama pencurian kecil semakin lama menjadi semakin besar. Bukankah korupsi juga bagian dari mencuri?

Dalam Islam, fenomena mengerjakan perbuatan dosa terus-menerus hingga dianggap hal biasa membuat jiwa dan hati mati. Nilai kebenaran dari Allah tidak akan dirasakan lagi.

Dikisahkan, seorang murid dari Abdullah bin Mas’ud RA yang bernama Ar-Rabi bin Khutsaim yang dikenal sebagai tokoh zuhud dan berilmu. Temans dapat mencari nama tersebut di Google.

Saat masih berusia belia, beliau mengejutkan ibunya. Setiap malam, dia menangis dalam munajatnya kepada Allah. Tangisannya begitu keras hingga orang-orang di sekitar terbangun.

Akhirnya, sang ibu bertanya, “Apa yang terjadi anakku? Apakah kau melakukan sesuatu yang menyebabkan Allah murka?”

Ar-Rabi menjawab, “Benar Ibu, saya telah membunuh.”

Ibu, “Siapakah yang engkau bunuh, wahai anakku? Kita akan datangi keluarganya dan meminta maaf. Semoga mereka mengampunimu.”

Ar-Rabi, sang anak berkata, “Tenanglah Ibu. Aku membunuh jiwaku sendiri. Begitu banyak dosa yang telah aku perbuat dengan biasa sehingga tanpa disadari. Itu telah membunuh jiwaku.”

Petikan kisah tersebut menyentakkan jiwa, betapa dosa dapat membuat jiwa mati. Jiwa yang mati akan terus melakukan dosa dan kebaikan. Namun, tobat dengan sungguh-sungguh dapat membuatnya kembali hidup. Allah Maha Pengampun.

Orang Tua Menjaga Anak dari Perbuatan Dosa

Sebagai orang tua, Temans pasti tahu bahwa semua pendidikan dan pengajaran kepada anak kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Oleh karena itu, menjaga anak dari perbuatan dosa merupakan sebuah keniscayaan.

Ada tiga hal yang saya coba lakukan dan mungkin juga dapat bermanfaat bagi Temans.

Pertama, ajarkan anak untuk dekat pada Allah sejak kecil. Hal ini pasti Temans sudah lakukan.

Anak diajarkan iman dan akhlak baik hingga terukir di hatinya. Ketika ingin curang, hati kecil akan memberi rangsangan bahwa hal tersebut bukan ajaran Islam dan seterusnya.

Tidak ada jalan yang lurus. Belokan atau tikungan pasti ada. Setidaknya, penanaman akidah dan akhlak akan membuat mereka tahu kemana akan kembali.

Kedua, memberi teladan karena anak sejak kecil adalah peniru ulung. Jika Temans ingin anak shalat, perlihatkan bahwa anak shalat. Begitu pula jika ingin anak terhindari dari dosa lain.

Orang tua harus menunjukkan keteladanan sikap jujur dan menerima anak sesuai kemampuannya. Ini akan menghindari perbuatan menyontek dan segala kebiasaan buruk yang mungkin terjadi karena anak ingin dihargai.

Ketiga, dekatkan diri dengan anak. In sya Allah, anak yang dekat sejak kecil dan terbiasa bercerita akan membawanya terus hingga dewasa.

Saat anak dewasa, Temans tetapi menjadi tempat berbagi cerita suka dan duka. Ketika melakukan kesalahan, mereka akan mengakuinya.

Temans dapat bertanya dari mana asalnya semua barang-barang miliknya tanpa menghakimi. Anak akan tenang bercerita dan mudah pula diberi masukan.

Sekali lagi, saya menulis ini bukan karena sudah menjadi ahli. Hanya share pengalaman dan mudah-mudahan bermanfaat.